Jumat, 28 Februari 2020

Omnibus Law : Pemerintah Tawarkan Solusi Guna menarik Investor



Perekonomian Indonesia Rendah, Gebrakan Pemerintah Tawarkan Solusi Omnibus Law Guna Menarik Investor


Jakarta, 28 Februari 2020 – Wakil Sekretaris PC GP Ansor, Kota Bekasi, Muhammad Aminuddin, mengatakan bahwa omnibus law sering sekali terdengar di ruang publik. Ada kalangan yang mendukung bahkan ada juga kalangan yang menolak tentang adanya omnibus aw ini. 


“Sebenarnya apasih omnibus law sehingga membuat warga negara Indonesia ricuh akan adanya hal tersebut. Hal ini, Ia samapaikan dalam Dialog Mahasiswa di Ruangan Telecrom Kampus 1 Universitas Islam As-Syafi’iyah (28/20).

Menurutnya, omnibus law adalah penyederhanaan regulasi yang saat ini sebagian masih tumpang tindih dan seakan berbelit –belit agar menjadi regulasi yang lebih transparan dan memudahkan semua pihak, maka pemerintah membuat omnibus law

“Omnibus law disiapkan untuk memperkuat perekonomian nasional. Dalam omnibus law ini, pemerintah memiliki keterlibatan dalam hal investasi didalamnya. Adanya omnibuslaw diharapkan mampu memberikan perlindungan lebih kepada pegawai/buruh kerja agar kesejahteraan nasional tercapai juga. Saat ini draf RUU omnibuslaw telah sampai di tangan DPR untuk dikaji,” paparnya.

Disisi lain menurut salah akademisi, Amir Maksum, dalam pidato Presiden Joko Widodo setelah beliau dilantik untuk  menjadi presiden yang kedua kalinya, beliau merencanakan akan membuat sebuah konsep hukum perundang – undang  yang kerap sekali disebut omnibus law .

“Yang akan dilakukan adalah untuk penyederhanaan kendala regulasi yang berbelit – belit dan panjang. Dalam  undang – undang omnibus law ada 11 klaster. Salah satunya klaster tentang UU cilaka,” kata Amir.

Selain itu, tambah Amir bahwa yang  sering sekali jadi perbincangan dikalangan masyarakat, terlebih para buruh.

“Omnibus law siapa yang beruntung? Tentu saja semua pihak diharapkan dapat menikmati keuntunganya, baik masyarakat (pekerja) maupun pengusaha (investor). Adanya omnibus law diharapkan dapat menarik banyak investor untuk menanamkan sahamnya di Indonesia, dengan kata lain, banyaknya penanam saham ini nantinya akan menciptakan lapangan kerja baru bagi warga Indonesia apalagi, kita akan segera menghadapi bonus demografi,” terangnya.

  1. Ditambah, kata Amir, persoalan perekonomian di Indonesia yang saat ini semakin rendah. Sehingga pemerintah memberikan alternatif solusi dalam bentuk regulasi berupa omnibus law untuk mempermudah salah satunya perizinan berusaha, perlindungan UMKM dll sebagainya yang menjadi upaya untuk menaikkan perekonomian nasional.


Selasa, 25 Februari 2020

Mba Antri : Perempuan Dalam Literasi Masa Kini


Zaman dulu perempuan sangat tunduk dengan apa yang diintruksikan, dengan apa aksen yang dimiliki, bahkan tidak memiliki sedikitpun keberanian untuk menyangkal instruksi. 

Berbeda dengan realita hari ini, perempuan sangat menjujung tinggi sifat critical thinking yang dimiliki nya, sehingga mereka sadar dalam diri seseorang itu memiliki hak dan kewajiban yang wajib untuk dimiliki, sehingga berani dalam menyuarakan bagaimana ia memiliki hak dan kewajiban tersebut. Bagaimana dalam memiliki critical thinking yang bisa mengeksplore gagasan atau fikiran dalam keadilan yang harus mereka dapatkan, salah satu cara yang dapat  ditempuh hari yaitu melalui sebuah tulisan, akan tetapi  
Zaman sekarang marak sekali penulis laki-laki yang sedang naik daun, dan perempuan masih  dianggap kemampuan berfikir maupun berimajinasi itu dibawah rata-rata laki-laki. Perempuan dan juga laki-laki juga sama-sama memiliki kesempatan yang bernilai sama, karena dalam hal tersebut tidak mencakup hal yang kodrati yang merupakan given dari sang khalik.  

Hari ini kita harus mampu membuat stigma tersebut, karena dengan tulisan perempuan dapat mengekspresikan banyak hal. Akan tetapi Menjadi penulis perempuan sangat memiliki banyak sekali tantangan dan sedikit lebih sulit diterima oleh laki-laki karena akan dianggap menurunkan harkat dan martabat dari seorang laki-laki karena akan merasa terkalahkan oleh penulis perempuan. 
Perempuan lebih rentan untuk depresi tetapi laki-laki lebih rentan untuk bunuh diri. Perempuan dari sisi biologis, ketika perempuan mengalami haid, tak sedikit perempuan merasakan kesakitan disebabkan hormone dari haid tersebut. Sehingga, kita bisa lihat dari sisi yang lain, salah satu kasus penyebab depresi ketika perempuan sebagai ibu yang mempunyai anak yang sudah seharusnya umur untuk berjalan, tetapi, belum bisa berjalan hal tersebut dapat menjadi beban fikiran bagibperempuan. Tetapi, disisi lain laki-laki juga rentan akan bunuh diri, terlebih laki-laki yang senang sekali menutupi masalah yang sedang dihadapi,  sehingga mudah menimbulkan gangguan mental ketika laki-laki  tidak dapat menahan beban tersebut. Sehingga mereka tidak memiliki instrument kebahasaan  untuk bisa diungkapkan, dan dapat menghasilkan potensi angka bunuh diri yang tinggi. 

Generasi maskulin tidak boleh mendiskriminasi  generasi feminist. Berfikir kritis meliputi Masalah dan Solusi. Sehingga tidak ada keberpihakkan yang mendzolimi antara keduanya. Keberpihakkan yang seperti apa? 
Keberpihakkan yang dimaksud ialah berpihak pada nilai-nilai kebaikan universal,keadilan, kesetaraan dan keberagaman. 
Berbicara tentang perempuan yang pada hari ini memiliki banyak kontruksi sosial yang menimbulkan bias gender dalam ruang lingkup yang kita temui di setiap harinya.
Kondisi secara sosial, yang menjadi masalah hari ini, yang harus kita kaji seperti, Marjinalisasi (peminggiran), Subordinasi (Dipandang Rendah) Dipandang sebagai objek seksual . Stigmasisasi (pelebelan) Sumber Fitnah Kekerasan (Diskriminasi) Dihona, Dipukul, dibunuh. Beban Ganda/ Berlapis.
Permasalahan diatas harus diselesaikan karena Tidak ada keterbatasan dalam ruang gerak perempuan maupun laki-laki yang didiskriminasi ketidakmampuan. Perempuan yang ideal adalah perempuan yang tidak memikirkan tentang bagaimana mengalahkan laki-laki. Tapi lebih kepada bagimana ia mampu mengubah budaya msyarakat bahwa perempuan dan laki-laki memiliki kemampuan.

Antri

Sabtu, 22 Februari 2020

Omnibuslaw Sebagai Solusi Peningkatkan Ekonomi Negara



Jakarta – Lembaga kajian dan analisis yang bergerak diisu-isu ekonomi, Cut Out Goebok Indonesia menggelar diskusi public dengan “Regulasi Ekspor dalam Meningkatakn Perekonomian Indonesia”, acara tersebut bertempat di PWNU DKI Jakarta, jalan Utan Kayu Raya. Jum’at (21/02).

Hadir puluhan mahasiswa dari berbagai kampus serta organisasi mahasiswa yang menjadi partner diskusi para narasumber, yaitu Ridwan Sukmana, S.Ag M.M. pengamat kebijakan dan anggota Komisi hukum dan perundang-undangan MUI pusat, dan Dr. Lukman Hamdani, M.E.I. Akademisi Jakarta & Pengamat Pertumbuhan Ekonomi.

Dalam penjelasannya, Ridwan Sukmana, S.Ag M.M. mengatakan ekspor harus dilakukan untuk meningkatkan perekonomian di Indonesia, pada tahun 70-an awal orde baru, neraca transaksi berjalan posisi ekspor di Indonesia mengalami defisit, jika ekspor lebih tinggi ketimbang import maka akan celaka yaitu nilai rupiah akan tertekan dengan demikian untuk meningkatkan perekonomian harus meningkatkan ekspor.

“Dulu neraca ekspor defisit daripada impor, imbasnya terhadap nilai rupiah, maka salah satu jalan untuk meningkatkan perekonomian negara ya melalui ekspor,” tutur Ridwan.

Dan salah satu strategi yang dilakukan pemerintah pada waktu itu menggunakan deregulasi, jika deregulasi tidak dilakukan maka akan menghambat ekspor sehingga bisa terjadi defisit.

“Pemerintah kemudian melakukan deregulasi agar meminimalisir hambatan ekpor barang keluar.” Imbuh Ridwan.

Dalam pandangan Ridwan, jika ekspor meningkat maka PDP akan meningkat dan begitu sebaliknya, semakin tinggi PDP yang diperoleh maka semakin baik perekonomian negara. Karena teorinya, perhitungan PDP Konsumsi+Ivestasi+Apbn+(Ekspor-Impor) sehingga terlihat jika nilai ekspor dan impor sangat berpengaruh pada perhitungan PDP sejak tahun 1992-2015.

Diapun menjelaskan perlunya kemapuan wirausaha atau peningkatan produksi sehingga mampu melakukan ekpor dan menekan impor untuk pemenuhan kebutuhan, dan harga yang ditawarkan juga harus lebih murah dibandingkan barang-barang impor, sehingga produksi dari memicu masyarakat Indonesia untuk gemar memilih barang produk sendiri.

“Mendesak hari ini adalah peningkatan produktivitas, mendorong wirausaha dimasyarakat serta memastikan harga barang produksi mayarakat memiliki daya saing sehingga masyarakat Indonesia lebih memilih barang produk Indonesia.” Imbuh Ridwan.


Narasumber laiinya, Dr. Lukman Hamdani, M.E.I menyoroti kebijakan ekspor negara, menurutnya beberapa sektor ekspor yaitu sektor minyak, gas, coklat, karet, dll saat ini masih menjual barang mentah atau setengah jadi dengan harga murah keluar negeri dan membeli hasil olahan dengan harga yang lebih mahal.

“Sayangnya negara kita masik mengekpor barang mentah atau setengah jadi, lalu membeli barang hasil olahan dengan harga yang lebih mahal.” Tutur Lukman.

Dalam analisisnya, Lukman memandang hambatan perekonomian saat ini banyak terhambat oleh pajak yang harus ditanggung sehingga meningkatkan beban biaya, sehingga banyak investor yang berfikir dua kali karena banyaknya pajak yang harus dibayar.

“Pajak yang terlalu banyak meningkatkan beban biaya, ini yang membuat investor berfikir dua kali ketika mau investasi di Indonesia.” Imbuh Lukman.

Diapun menyarankan agar pemerintah hari ini harus fokus untuk pengoptimalan SDA serta SDM yang ada di Indonesia untuk dapat meningkatkan perekonomian, karena tujuan dari ekspor ini yaitu untuk dapat mensejahterakan masyarakat Indonesia sehingga butuh kerjasama semua pihak baik pemerintah, kementerian, dirgen pajak, sampai pada masyarakatnya sehingga dibutuhkan sinergitas yang baik untuk memaksimalkan ekspor di Indonesia.